Bahasa Indonesia
English
You are here
FT UNY Hadirkan Irigasi Multimode untuk Kebun KWT Marsudi Luhur di Karst Semanu
Primary tabs

GUNUNGKIDUL — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (FT UNY) mengimplementasikan sistem distribusi air dan irigasi kebun multimode di kebun Kelompok Wanita Tani (KWT) Marsudi Luhur, Padukuhan Kepuh, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul. Teknologi tersebut dikembangkan untuk membantu kelompok mengelola penyiraman kebun sayur pada wilayah karst yang memiliki keterbatasan pasokan air, terutama pada musim kemarau.
KWT Marsudi Luhur mengelola kebun sayur sekitar 300 meter persegi dengan komoditas antara lain cabai rawit, kacang panjang, kenikir, terong, mentimun, kemangi, dan kangkung. Sebelum program dilaksanakan, penyiraman lebih banyak mengandalkan selang dan belum didukung pembagian jaringan yang dapat menyesuaikan tekanan serta kebutuhan setiap bagian lahan.
|
Capaian Utama Program • 21 peserta mengikuti pelatihan dan evaluasi. • Literasi dasar meningkat dari 84,13 menjadi 95,63. • Kesiapan operasional meningkat dari 2,55 menjadi 3,61 pada skala 4. • Sebanyak 85,7% peserta berada pada kategori kompeten atau sangat kompeten dalam uji praktik. • Kepuasan peserta mencapai 3,73 dari skala 4. |
Satu Sistem, Beberapa Mode Penyiraman
Sistem dirancang agar satu sumber air dapat melayani beberapa kebutuhan secara terpisah. Cabang pertama mengalirkan air menuju rumah. Cabang kedua menyediakan aliran bertekanan rendah melalui empat valve layanan yang dapat digunakan untuk mencuci peralatan, penyiraman ringan, dan kebutuhan umum. Cabang ketiga mengalirkan air menuju kebun melalui booster pump yang bekerja otomatis ketika sensor mendeteksi aliran.
Untuk menjaga tekanan, jaringan kebun dibagi menjadi empat zona yang melayani sebelas jalur. Penyiraman bertekanan dilakukan secara bertahap dengan membuka satu zona dan menutup zona lainnya. Pada mode irigasi tetes, sensor aliran dinonaktifkan sehingga air tetap melewati pompa tanpa mengaktifkan booster. Karena kebutuhan debit lebih rendah, beberapa zona dapat dibuka bersamaan selama tetesan pada bagian awal, tengah, dan ujung jalur masih terdistribusi secara memadai.
Peserta mempraktikkan pengenalan valve, konfigurasi jalur, sensor aliran, dan booster pump di titik sumber. Foto: Dokumentasi Tim PkM FT UNY.
Pelatihan Tidak Berhenti pada Pemasangan Alat
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembersihan dan persiapan lokasi pada 11 Juli 2026, dilanjutkan pemasangan pipa utama pada 12 Juli 2026. Pemasangan jalur spray dan drip sekaligus pelatihan pengoperasian dilaksanakan pada 18 Juli 2026. Pengolahan lahan dan penanaman dilakukan pada 25-26 Juli 2026, sedangkan observasi tindak lanjut dan evaluasi dilaksanakan pada 30 Juli 2026.
Pelatihan menggabungkan penjelasan teori, demonstrasi, praktik terbimbing, dan praktik kelompok. Peserta mempelajari fungsi setiap katup, pemilihan mode operasi, perpindahan zona, pemeriksaan awal, penghentian sistem secara aman, pengaturan sensor, penanganan kebocoran, serta pembersihan nozzle. Label katup berwarna kontras, infografis alur, dan buku saku disiapkan agar anggota tidak harus mengandalkan ingatan terhadap istilah teknis.
Pemasangan dan penataan jalur nozzle spray/drip pada bedengan kebun KWT Marsudi Luhur. Foto: Dokumentasi Tim PkM FT UNY.
Kapasitas Peserta Meningkat
Evaluasi menunjukkan peningkatan kemampuan peserta. Skor literasi dasar irigasi dan keselamatan meningkat dari rata-rata 84,13 sebelum pelatihan menjadi 95,63 setelah pelatihan. Kesiapan operasional meningkat dari 2,55 menjadi 3,61 pada skala 4. Pada uji praktik, 18 dari 21 peserta atau 85,7 persen berada pada kategori kompeten atau sangat kompeten. Kepuasan peserta terhadap pelaksanaan kegiatan mencapai rata-rata 3,73 dari skala 4.
Observasi tindak lanjut menunjukkan sistem telah digunakan untuk penyiraman langsung, spray/sprinkler, dan drip. Pembagian tugas petugas mulai dilakukan secara bergilir. Anggota juga mampu mengenali gangguan awal seperti nozzle tersumbat, kebocoran sambungan, dan aliran yang belum merata pada sebagian jalur.
Tim mencatat bahwa penguasaan pengetahuan spesifik masih perlu diperkuat. Dengan batas ketuntasan 75, sebanyak 11 peserta atau 52,4 persen mencapai ketuntasan pada tes pengetahuan sistem. Karena itu, pendampingan berikutnya akan menekankan pengulangan praktik, pengaturan sensor sesuai mode, pengisian log pengoperasian, pembersihan nozzle, dan pemeriksaan keseragaman aliran.
Klaim Efisiensi Tetap Diukur Secara Hati-hati
Sistem dikembangkan untuk mendukung penyiraman yang lebih terarah dan fleksibel. Namun, tim belum menyatakan besarnya penghematan air secara kuantitatif karena jaringan belum dilengkapi flow meter dan pressure gauge. Pada tahap berikutnya, alat ukur debit dan tekanan diperlukan untuk membandingkan kinerja setiap zona, keseragaman distribusi, dan penggunaan air secara objektif.
Program ini dilaksanakan melalui Skema PkM Kerjasama Kampung Emas Tahun 2026 berdasarkan Kontrak Nomor 56.70/DST/UN34.15/T/PT.01.03/2026 dengan pendanaan Rp20 juta dari Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan dipimpin Dr. Ir. Muhkamad Wakid, S.Pd., M.Eng. bersama Ir. Dian Eksana Wibowo, S.T., M.Eng., IPM., ASEAN Eng.; Dr. phil. Ir. Muhamad Ali, M.T., IPU., ASEAN Eng.; Dr. Ir. Apri Nuryanto, S.Pd., S.T., M.T.; serta mahasiswa Aisyah Rohmatunnisa, Atha Fawwaz Rudiyanto, Achmad Novianto, Bima Setya Adi Pratama, dan Abdillah Zaky Arsyad.
Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah lokal, dan KWT diharapkan memperkuat pengelolaan kebun sayur, menjaga keberlanjutan teknologi, dan membuka peluang penerapan pada kelompok lain yang menghadapi karakter sumber air serupa di kawasan karst Gunungkidul.
Link Terkait
Contact us
Copyright © 2026,